Social Sciences, Bukan Social Studies

Illustrasi Kasus

ILMU SOSIAL YANG BERPIHAK

 Persoalan mengenai netralitas ilmu telah menjadi perbincangan ilmuwan sebelumnya. Kala itu, orang bertanya-tanya, apakah ilmu itu netral, tidak memihak, seratus persen obyektif dan bebas nilai (free values). Bordieu melihat ada nilai-nilai dalam sebuah kelompok, yaitu nilai habitus. Gramsci melihat adanya dominasi tertentu dalam horizon keilmuan masyarakat disebut hegemoni. Bahkan Berger selalu mencurigai adanya kanopi social yang bersifat halus (secret canopy) namun menyelubungi kesadaran kolektif yang konon diakui sebagai ilmu. Althusser dan Foucault juga menunjukkan bukti serupa tentang ideology masyarakat. Kalangan ilmuwan social, akhirnya menyadari bahwa ilmu tidak lagi bisa netral. Lebih tepatnya, Ilmu Sosial alias Social Sciences tak pernah netral, melainkan selalu memiliki keberpihakan pada kelompok masyarakat tertentu.

Harap dicatat, kita membicarakan Social Sciences dan bukan Social Studies. Di dalam social sciences terdapat sosiologi, antropologi, sejarah, politik, ekonomi dan lain disiplin lainnya. Sedang manakala kita membicarakan social studies, maka ilmu pengetahuan social menjadi contoh termutakhirnya. Sekalipun unsure-unsur dari IPS ada dalam social sciences, namun kenyataannya IPS mengarah pada agenda yang sama sekali berbeda dari unsure awalnya. Isu-isu social yang dikemukakan dalam IPS lebih banyak diabdikan untuk membentuk civic value (nilai-nilai sipil) seperti hak dan kewajiban, pengenalan kemasyarakatan, pengenalan kelompk-kelompok social dan lain sebagainya.

Kembali pada social sciences, ketidak netralan ilmu social -menurut kuntowijoyo- haruslah diarahkan pada keberpihakan pada kemanusiaan, keadilan, cinta kasih, keluhuran serta kebijaksanaan yang diturunkan dari nilai-nilai profetis (kenabian). Ilmu social jangan banyak cakap, kecuali untuk memperbaiki sisi kemanusiaan masyarakat. Bisa gak yaaaa ?

TRAGEDI SANG PROGRESIFIS

Illustrasi Kasus

 

Ijtihad ataukah Bid’ah

 

Sebagian aktivis muslim kiranya setuju bahwa dakwah merupakan gerak maju pemberadaban manusia agar lebih Islami dan lebih baik. Kita bisa menyebut visi ini sebagai progesivisme. Walhasil, setiap dai di setiap era memiliki gaya dan tawaran-tawaran sendiri untuk mengatasi problem masyarakat di jamannya. Sejarah Islam di nusantara misalnya. Manakala Islam untuk pertama kalinya dikembangkan oleh para sufi, maka berkembanglah berbagai tradisi islam lokal yang secara perlahan menggeser tradisi lama pra-Islam. Ada banyak tradisi yang bisa dibilang sebagai hasil ijtihat ulama terdahulu seperti tahlilan, sadranan, sastra ajisaka, tembang-tembang dolanan dan lain sebagainya. Namun belakangan, oleh ulama-ulama yang katanya modern dan terinspirasi oleh aliran wahabiyah, beragama ijtihad budaya tersebut mendapatkan label negatif karena dianggap bidah, kurafat dan tahayul. Ijtihad tempo dulu, kini hari dianggap bid’ah. Dan tidak mustahil, sang penuding bid’ah ini hari, dua puluh tahun ke depan akan mendapatkan cemoohan yang sama dari generasi masa depan.

Dalam konteks pendidikan, progresifisme di Indonesia telah maju dengan mengembangkan pendidikan berbasis sekolah. Efek samping dari ‘kemajuan’ ini, adalah kita sempat melalaikan ‘model pendidikan’ lama yang dulu sempat kita perjuangkan di jamannya. Ada pesantren, ada perguron dan ada pula keraton. Tentu saja, pembelaan pecinta tradisi akan menuding, mengapa kami engkau lalaikan wahai Negara?. Progres alias kemajuan adalah tuntutan jaman, namun memerlukan kearifan untuk memulai dan menjalankannya. Semoga kita lebih arif dalam mengajukan ide kemajuan untuk hari ini, agar generasi mendatang tidak segera meneriaki generasi kita sebagai biang keladi hancurnya tradisi, seni dan budaya nasional.

STRUKTURALISME; HARUS ADA YANG BERTANGGUNG JAWAB

Illustrasi Kasus

Sekolah Musti Bertanggung Jawab

Di sebuah SMU pagi itu ramai oleh kerumunan aparat keamanan. Nampaknya telah terjadi tawuran masal yang melibatkan siswa-siswa dua sekolahan yang saling bertetangga, SMU X dengan STM Y. Tawuran pagi ini, bukan kali pertama kalinya terjadi. Kedua sekolah tersebut sama-sama menggunakan lapangan sepakbola milik Pemerintah Desa U dengan waktu yang telah terjadwal sebelumnya. Pada saat siswa SMU X mendapat giliran bermain bola di lapangan, datang beberapa anak STM Y membikin ulah yang berujung pada tawuran masal pagi itu.
Kasus semacam tidak jarang terjadi di lingkungan sekolah atau antar sekolah. Pemicunya bisa apa saja. Dari masalah pacar, gengsi, mode pakaian hingga sekedar salah paham dalam berkomunikasi. Sayangnya, pihak yang berwenang atau pun pejabat sekolah seringkali menanggapinya sebagai kenakalan anak semata. Maka tawuran antar sekolah tak jarang berakhir dengan menghukum aknum yang dianggap menjadi biang masalah, mengisolasinya hingga memberhentikan status kesiswaannya. Namun bisakah anda membedakan mana oknum, profokator dan aktor lainnya yang memicu tawuran sejenis? Mengapa siswa yang disalahkan sementara sekolah dianggap baik-baik saja tanpa berkewajiban untuk mempertanggungjawabkannya ?
Strukturalisme membawakan perangkat analisis agar sekolah bisa mengevaluasi diri atas kejadian semacam ini. Strukturalisme adalah metodologi analitis yang mengungkap struktur yang bertanggungjawab atas realitas pendidikan saat ini. Strukturalisme juga menjadi semacam cara pandang, di mana fenomena, peristiwa dan realitas sosial itu tidaklah terbentuk begitu saja, melainkan dibentuk oleh suatu struktur yang terkadang bekerja tanpa disadari oleh para pelakunya. Pandangan ini juga mengalihkan analisisnya bukan lagi pada aktor, oknum atau pelaku, melainkan pada struktur yang lebih besar. Struktur itu bisa bermakna suasana, kultur dan sistem makna yang menentukan pola prilaku dan interaksi manusia.
Analis strukturalis tidak akan menyalahkan siswa pelaku tawuran, karena siswa tak lain hanya hanyut dalam struktur yang lebih besar. Guru juga bagian dari struktur, dan keamanan juga demikian. Mungkin seorang analis strukturalisme akan melihat bahwa akar dari permasalahan tawuran adalah budaya kompetisi. Di SMU X, semangat kompetisi telah mmebuat warganya menjadi merasa ekslusif karena SMU tersebut terbilang favorit. Akibatnya, pihak sekolah melarang siswa untuk jajan di luar sekolah dan mewajibkan siswa untuk mengenakan seragam sekolah khas SMU X. Sikap ekslusifisme memancing sentimen negatif dari STM Y karena sejumlah anak menganggap anak-anak SMU X adalah anak sok hanya gara-gara jarang membaur dengan mereka. Pun ketika ada perhelatan megah di SMU X, semisal band sekolah, siswa-siswa STM Y merasa tidak pernah mendapatkan undangan, apalagi dilibatkan. Dalam pandangan strukturalis, jika masing-masing sekolah hanya menyalahkan siswa pelaku tawuran, maka sesungguhnya sekolah telah buta karena tak sanggup membedakan mana korban dan pelaku kriminal. Padahal sekolah itulah biang munculnya tawuran karena mereka mengembangkan budaya kompetisi, bukan kooperasi.

FENOMENOLOGI; BELAJAR DARI FENOMENA LANGSUNG

Illustrasi Kasus

ENJOY BELAJAR KARENA FENOMENOLOGI

Widi, siswi kelas 5 SD, begitu bersemangat karena hari ini ia bersama teman-temannya sekelas diajak menggambar rumah-rumah warga yang berada di sekitar sekolahnya. Widi sudah memilih rumah yang akan ia gambar. Teman-temannya juga telah memiliki pilihan rumah masing-masing untuk di gambar. Dari kelas, rombongan Widi bersama teman-temannya menuju rumah yang dipilih menjadi model gambaran. Mereka diwajibkan untuk meminta ijin kepada pemilik rumah agar diijinkan menggambar dari angle yang paling mereka kehendaki. Widi memilih rumah Pak Yoto, yang terletak 5 blok dari sekolah. Ia mengambil sudut dari sisi teras depan, sehingga taman rumah bias ia abadikan dalam gambarnya. Kawannya Gito memilih rumah Pak Eko yang terletak persis di sebalah sekolah karena ia lebih suka rumah yang besar. Gito menggambar rumah tersebut dari seberang jalan. Kawan-kawan Widi yang lain telah menemukan angle yang mereka paling sukai untuk model rumah masing-masing.
Widi dan kawan-kawannya senang dengan pelajaran menggambar kali ini. Mereka menjadi lebih riang dan bias bergerak bebas di luar kelas. Lukisan mereka menjadi bervariasi dan lebih hidup. Keceriaan ini tidak mereka dapati pada kelas sebelumnya, karena guru lukis terdahulu lebih sering memberikan contoh gambara di papan tulis atau paling banter mempersilahkan siswa-siswi mencontoh model-model di buku panduan.

Mengapa Studi Pendidikan Perlu Filsafat?

Illustrasi Kasus

Antara Konsep dan Resep
Pak Umar sudah mengajar lima belas tahun di SMP Z. Beliau adalah guru matematika yang cukup periang, murah senyum dan dikenal penyayang. Karena sifatnya yang ramah itu, maka siswa-siswi banyak yang akrab dengan Pak Umar. Di sisi lain, pembawaannya yang kalem, santun dan sangat bersabar dalam menghadapi kenakalan remaja terkadang membuat situasi menjadi tak terkendali. Sudah berkali-kali terjadi keributan di kelas Pak Umar, namun beliau selalu bersabar. Beliau biasanya memangil para siswa yang dianggap bermasalah, menasehatinya secara santun tanpa kalimat yang menyinggung perasaan siswa maupun walimurid. Namun kebandelan lebih sering menghinggapi murid-muridnya. Hingga suatu kali, ketika di dalam kelasnya terjadi perkelahian antara dua siswa, Pak Umar kali ini marah besar. Emosinya memuncak, dan dengan tangan bergetar Pak Umar berdiri sambil membentak;
“Sidiq, Ridwan, berhenti berkelahi”
Dua siswa yang tengah berkelahi segera berhenti. Sebelumnya tidak pernah mereka melihat Pak Umar sedemikian tegang, karena selama ini mereka dapati Pak Umar penyabar dan murah senyum. Suasana kelas yang tadinya gaduh oleh sorak-sorai siswa lain yang meneriaki perkelahian tadi, mendadak menjadi sunyi senyap
“Kemari, kalian berdua !” Dua siswa yang berkelahi dengan perasaan takut mendekat, maju ke depan kelas.
“Buka baju kalian !” Perintah Pak Umar, masih dengan muka yang merah padam terbakar marah. Dan dua siswa yang diperintahnya menurut saja. Pak Umar menerima baju keduanya, lalu ngeloyor pergi ke halaman sekolah, sambil menggantung baju itu di tiang bendera sekolah.
Anak-anak yang lain penasaran, apa yang akan dilakukan oleh Pak Umar dengan baju kedua temannya. Mereka melongok ke jendela kelas, melihat kejadian selanjutnya. Namun sungguh, mereka menjadi bingung akan apa yang mereka lihat. Dari jendela kelas, mereka lihat Pak Umar memarah-marahi kedua baju tersebut, menasehatinya seolah baju-baju tersebut bisa mendengar. Suara Pak Umar, sesekali mereka dengar karena tak jarang kadang naik, namun kadang juga turun. Seseorang dari siswa kelas, tiba-tiba menangis.
”Huk…huk…. lihatlah teman-teman. Pak Umar tidak mau memarahi kita meskipun kita sedemikian nakalnya. Beliau Cuma memarahi baju-baju kita, tanpa sedikitpun menyalahkan kita.” Suaranya segera disambut oleh siswa lainnya.
”Iya…. Sebaiknya kita minta maaf pada beliau”. Kata teman lainnya yang segera mendapat persetujuan dari kawan-kawannya sekelas. Rupanya setelah melihat kesabaran Pak Umar, anak-anak menjadi trenyuh, dan penyesalanpun segera menyergap hati mereka. Dengan gundah, satu-persatu mereka keluar hingga semuanya keluar menghampiri Pak Umar yang masih memaki-maki baju dua siswanya. Sebagian dari siswa terlihat sesunggukan, karena tangis penyesalan yang belum berkesudahan.
”Pak… Kami minta maaf….hu…hu… ” Seorang siswa memberanikan diri untuk maju, sambil menangis sesunggukan. Pak Umar yang dari tadi memaki-maki baju, berhenti. Perlahan beliau berpaling pada siswa-siwi didikannya tersebut.
”Kalian tidak bersalah…. Bapaklah yang kurang pandai mengajar kalian.” Jawabnya singkat, dengan suara perlahan yang mendalam.
Dua anak yang tadi berkelahi di dalam kelas, maju mendekat.
”Kami yang salah Pak. Kami siap menerima hukuman atas tindakan kami ini.” Kata Ridwan, siswa yang tadi berkelahi. Kalimatnya mendapat anggukan dari Sidiq yang tadinya menjadi lawan tandingnya. Singkat cerita, Pak Umar memaafkan kelas tersebut. Namun sebagai bukti penyesalan dua anak yang berkelahi, selama seminggu keduanya harus bertukar pakaian. Bila ternyata dalam seminggu ada satu anak yang tidak merawat baju pinjaman dari temannya, maka Pak Umar enggan untuk mengajar kelas tersebut. Sejak saat itu, kelas tersebut berubah menjadi kelas yang baik, dan lambat laun prestasi mereka naik.
Cerita di atas merupakan pengalaman pribadi Pak Ridwan, murid dari Pak Umar yang kini menjadi seorang guru SD. Ia tengah menemui masalah yang sama dengan gurunya, yaitu kelas yang kelewat bandel. Terkesan dengan kejadian kala itu, Pak Ridwan bermaksud menerapkan cara dan metode yang ditempuh Pak Umar, guru kesayangannya. Namun sungguh di luar dugaan. Begitu ia memarahi baju-baju muridnya, para siswa bukannya terharu, tapi malah menertawakannya, bahkan sebagian menganggap Pak Ridwan sudah sinting. Pak Ridwan tidak mengerti, mengapa cara yang sama pada kasus serupa justru menghasilkan tanggapan yang berbeda. Pak Ridwan tidak menyadari, bahwa ia sekedar menerapkan resep pendidikan, tanpa menyelami konsepnya. ”Sialan…” Kutuk Pak Ridwan dalam hati. Bukannya tuntas atau mendapat simpati, hari itu Pak Ridwan malah mendapat teguran keras dari Kepala Sekolah karena ternyata tindakannya mendatangnya dugaan miring sebagian walimurid yang bertanya pada Kepala Sekolah, apakah Pak Ridwan kala itu sedang mengguna-gunai siswa memalui media baju-baju mereka. Lho kok???

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.